Warta Lereng Gunung Argopuro, Rembang, Jawa Tengah

Ekspedisi Puncak Argopuro #2

Dilanjutin ceritannya. Bagi nyang belum tahu bisa ngeklik Ekspedisi Puncak Argopuro #1 terlebih dulu.

Alhasil, di tengah rintik gerimis. Jalan setapak yang licin. Bahkan di 300 meter terakhir, jalanan yang kami lalui dipenuhi semak di kanan kiri. Tidak jarang semak tersebut bertautan di bagian atas sehingga membentuk sebuah lorong yang menimbulkan kesan fantastik. Kami sampailah di Puncak Argopuro, Puncak tertinggi di Gunung Lasem Kabupaten Rembang. Tidak terlalu tinggi memang, hanya 806 meter di atas permukaan laut.

Sepi, hanya kelompok kami saja yang kali ini menggelar acara di puncak itu. Tak apalah. Layaknya para pecinta alam profesional, kami langsung mendirikan dua buah tenda hasil pinjaman yang kami bawa. Sebuah untuk cowok dan sebuah tenda lagi untuk cewek. Semuanya bekerja dengan giat meski kelelahan setelah perjalanan kami. Apalagi separo lebih dari mereka adalah anggota baru yang baru pertama kali muncak. Aku sempat bangga, namun kutepiskan kebanggaan itu karna aku segera mafhum, mereka bekerja lebih dikarenakan hujan gerimis yang gak berhenti-henti. Mereka membutuhkan tempat untuk segera bernaung. Tak apalah, persamaan nasib selalu berkolerasi sejajar dengan saling ketergantungan yang pada akhirnya memunculkan kekompakan, meski untuk sementara. Yang penting, tenda telah berdiri.

Aku menuju beberapa bongkah batu besar yang berada di ujung utara puncak tersebut. Kupejamkan mata sembari menghirup udara basah yang bercampur angin dengan lumayan keras. Sebuah rasa nyaman yang kurasakan setiap kali sampai di puncak gunung, tempat yang oleh sebagian besar orang dicap sebagai tempat yang sebaliknya, tanpa kenyamanan. Dua bidadari tiba-tiba berada di sampingku. Aku sedikit menggeser tempat dudukku sehingga seorang dapat duduk di sampingku dan satunya lagi di batu di depanku. Indah, ya, kata mereka.

Ya. Meskipun didominasi kabut, pikirku. Namun tak urung juga kebiasaan lamaku kambuh. Setiap ada cewek, yunior lagi, yang nimbrung, tanpa komando nerocoslah deretan diskripsi campur naratif tentang gunung dan puncak argopuro itu. Kukatakatan tentang puncaknya yang memanjang ke selatan dengan lebar hanya 3 meter. Penuh keyakinan seperti pernah membawa meteran dan mengukurnya.

Juga kuceritakan bahwa jika hari sedang cerah, pemandangan dari puncak gunung ini teramat sangat indah. Di sebelah utara terlihat laut Jawa yang luas hingga tenggelam dalam cakrawala. Di sebelah barat, kota Lasem dan Rembang akan tertampak dengan background gunung Muria. Dan nun jauh di selatan, terlihat birunya gunung Lawu yang menjulang. Betul-betul sok tahu. Parahnya lagi Mereka mendengarkan dengan antusias kayak besoknya mau ulangan saja.

Senjapun tiba masih lengkap dengan gerimisnya. Semula aku rada tidak sreg jika harus ngecamp di puncak gunung. Setiap kali selalu kuusulkan untuk mencari tempat ngecamp di lerengnya saja.  Sehingga perjalanan ke puncak hanya berupa perjalanan pergi pulang tanpa parkir terlalu lama. Bukannya sok alim, tetapi dengan ngecamp di puncak berarti pula harus rela tidak mengerjakan sholat karena akan sangat kesulitan untuk menemukan air yang bisa dipergunakan untuk wudlu. Sebuah ironi ketika kita pergi mendatangi bukti kebesaran tuhan yang harapannya dapat lebih mempertebal keimanan, kita malah dengan semena-mena meninggalkan kewajibannya.

Tetapi ini kali, gerimis membuat genangan air yang lumayan di atap tenda dan dengan sedikit improvisasi bisa digunakan untuk wudlu. Melihat inisiatifku ini dua orang temanku beranjak mengikutiku. Betul kata para ustadz yang pernah kudengar, dakwah yang paling baik adalah lewat contoh perbuatan. Kalau aku mengajak lewat omongan saja, belum tentu ada yang berkenan mengikuti malah bisa-bisa dicap sebagai sok alim.

Setelah sukses mengerjakan sholat magrib, kupakai kaos tangan melengkapi kaos lengan panjang dan penutup kepala yang telah kukenakan terlebih dahulu. Selain untuk mengusir rasa dingin, juga untuk menghindari bersentuhan kulit dengan lawan jenis yang bisa membatalkan wudluku. Siapa tahu, nanti pas waktu isya, gerimis yang menyediakan air wudluku sudah berhenti. Dengan penutup seperti ini, membuat aku masih tetap bisa sesekali mencubit cewek tanpa harus kehilangan wudluku.

Setelah memasak mi instan sebagai teman nasi putih yang kubeli dari desa Ngroto dan mengikuti acara diskusi campur guyonan yang terpaksa dilakukan di dalam tenda tibalah waktunya untuk tidur. Tidur di tengah-tengah alam bebas merupakan sebuah kenikmatan yang tidak tertandingi oleh hotel berbintang tujuh sekalipun.

Jam 10 malam telah lewat namun kami belum lagi terlelap. Angin kencang menderu mengeluarkan suara yang menakutkan. Aku masih bergeming hingga tiba-tiba tenda kami terkoyak tengahnya. Sambaran yang sempurna membuat tenda itu sobek separo lebih. Untuk menghindari kerusakan yang lebih parah (mengingat tenda pinjaman), kami sepakat untuk merobohkan tenda tersebut rata dengan tanah dan menindihnya dengan batu besar. Untuk selanjutnya kami terpaksa berbagi tenda dengan cewek-cewek. Keterpaksaan yang oleh sebagian diantara kami dianggap sebagai keberuntungan.

Namun angin dan gerimis belum juga berhenti. Tenda yang kami tempati tak luput dari incarannya. Alhasil, sisi sebelah kiri tenda, tepat di sampingku disambarnya dengan sentakan yang kuat sehingga menghasilkan sebuah sobekan. Air gerimispun masuk ke dalam tenda. Setiap kali dicoba untuk dibenahi, dengan peniti, dengan klip, dan dengan berbagai benda-benda lain yang kami punyai tetap tidak menghasilkan perubahan. Tenda kami justru semakin terhempas-hempas oleh angin. Cowok-cowok yang tadinya mengharapkan kesempitan itu berbuah kesempatan, sudah nggak kepikiran lagi untuk mencari kesempatan itu.

Yang terlintas dalam pikiran setiap kepala di dalam tenda itu hanya dua harapan; angin cepat berhenti atau pagi segera datang! Dua harapan yang sama-sama tidak peduli dengan kami. Beberapa teman sudah mengenakan jas hujan masing-masing. Jas hujankun sudah sedari tadi kubuka dan digunakan bareng-bareng oleh tiga atau empat orang. Sambil duduk, tangan saling memegangi ujung jas hujan. Entah cowok semua atau ada makhluk ceweknyapun aku sudah gak ingat lagi, kurasa saat itu indraku sudah gak tahu perbedaan antara cowok dan cewek.

Syukurlah setelah terkantuk-kantuk dalam duduk selama tiga jam lebih, harapan kami terkabul. Kedua-duanya, malah, angin dan hujan berhenti dan fajarpun mulai menyingsing. Ingin tidur rasanya sudah terlambat, sekalian kami sepakat untuk mempersiapkan sarapan pagi lebih awal (sahur, kali). Biar esok kami bisa leluasa menikmati keindahan di puncak Argopuro ini yang katanya setiap pagi kita bisa menyaksikan sekumpulan kera bercengkerama. Atau biasanya selepas turun hujan, langit akan cerah, kabutpun hilang sehingga kami dengan bebas menikmati keindahan alam dari atas puncak ini. Tetapi bagaimanapun juga, suatu saat, kami pasti kembali lagi!

Sumber: http://alamendah.wordpress.com/2009/05/24/ekspedisi-puncak-argopuro-lasem-2/

Filed under: Argopuro, , , , ,

2 Responses

  1. alamendah mengatakan:

    Salam kenal,
    Artikel-artikel pada blog saya (Alamendah’s Blog) bebas untuk dikopi paste, ditulis ulang ataupun disebarluaskan untuk tujuan nonkomersial, dengan mencantumkan sumber penulisan dan memberi link balik ke sumber tulisan.

    Terima kasih telah menuliskan sumber tulisan.
    Semoga artikel2 tersebut memberikan manfaat bagi kita semua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: