Warta Lereng Gunung Argopuro, Rembang, Jawa Tengah

Buah Cerita dari Lasem di Hari Imlek

Siang ini, setelah perjalanan dari Surabaya, saya berkesempatan melewati kota tua di ujung timur propinsi Jawa Tengah, kota Lasem. Kota ini memang tidak asing bagi saya karena selama tiga tahun, dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2001, setiap pagi dan sore saya selalu melintasi kota ini dalam rangka berangkat dan pulang dari SMA di kota Rembang.

Sungguh sebuah kenangan yang selalu lekat dalam benak saya sampai hari ini. Dan hari ini, kembali saya melintasinya sekali lagi. Sepanjang jalan di Lasem sampai dengan kota Rembang, ada sesuatu yang menarik dalam penglihatan saya. Di sisi jalan, banyak sekali mobil-mobil ber-plat jauh, misal H (Semarang), L (Surabaya) dan B (Jakarta) terparkir dengan rapi. Bukan sembarang mobil, mobil-mobil ini tidak mencerminkan keadaan lazim karena sebagian besar dari mobil ini adalah mobil mewah. Sepintas lalu saya melihat Mercedez Benz seri C dan E berdampingan dengan Kijang Innova (kalau tidak salah versi automatic).

Kemudian saya lihat pula beberapa sedan BMW keluaran baru, Toyota Camry dan Harrier, bahkan sebuah Ford Everest. Disamping itu tentu saja berbagai macam mobil kelas MPV macam Isuzu Panther Touring, Suzuki APV dan beberapa city car seperti Honda Jazz, Toyota Yaris dan Suzuki Swift. Lasem siang ini bagai showroom terbuka mobil new middle/high-end, bersanding dengan dokar, bus mini dan becak yang memang sudah merajai jalanan Lasem sejak dahulu kala.

Tentu saja bukan mobil-mobil ini yang hendak saya ceritakan, melainkan fenomena yang menyebabkan kehadiran mobil bawaan teknologi dan peradaban modern tersebut. Hari ini, bertepatan dengan Tahun Baru Imlek, Lasem –dan kota-kota pesisir utara pulau Jawa seperti Tegal, Pekalongan, sampai dengan Tuban, Gresik dan Surabaya, saya pikir- memang menjadi kota tujuan mudik masyarakat suku Tionghoa.

Sejak berabad-abad silam, Lasem memang terkenal sebagai tanah leluhur suku Tionghoa. Di kota ini masih bisa banyak dijumpai rumah-rumah yang dibangun dengan motif budaya arsitektur cina yang sangat amat kental. Bangunan ini rata-rata di bangun pada pertengahan abad ke-19 sampai dengan awal abad ke-20 dan sekarang berubah fungsi menjadi gudang atau gedung tua yang sekadar dihuni oleh beberapa orang kerabat saja. Hanya sedikit yang masih terawat. Saya pernah menemani Ayah –yang seorang penggemar tanaman hias- mencari pot-pot cantik yang dijual di sebuah rumah kuno tersebut. Begitu memasuki halamannya, serasa saya disedot ke dalam sebuah mesin waktu yang melemparkan saya barang seratus tahun kebelakang, pada masa kejayaan para Cino Lasem tergambarkan pada bentuk bangunan, perabot, dekorasi dan ukiran yang menghiasinya.

Maka hari ini, untuk menghargai leluhur mereka, masyarakat Tionghoa yang sudah menjadi konglomerat di berbagai kota, bahkan sampai Singapura, Australia dan Kanada, mudik ke “kampung halaman” mereka. Di komplek pemakaman Tionghoa Gunung Bugel, beberapa kilometer sebelah selatan Lasem, mereka berkumpul untuk sekadar melihat sekeliling atau khusuk berdoa di depan makam leluhur mereka, mungkin dengan menyalakan beberapa dupa.

Moment sekali dalam setahun ini tampaknya benar-benar dimanfaatkan, tak beda dengan budaya nyekar pada bulan ramadhan yang dilakukan masyarakat muslim di daerah Lasem ini. Kesibukan memang mulai terasa sejak beberapa hari belakangan. Seorang teman di Surabaya mengatakan bahwa saya datang di waktu yang tidak tepat, karena ia dan keluarga hendak merayakan “Lebaran Cina”. Ia harus mempersiapkan segala sesuatu, mungkin berupa pernak-pernik, penganan dan berbagai macam kue yang menjadi ke-khas-an Imlek. Mereka sekeluarga hendak berbelanja di Pasar Atom, katanya.

Dan benar saja, ketika saya melintasi Pasar Atom, daerah ini sudah penuh sesak dijejali masyarakat, Tionghoa dan Jawa berbaur, entah untuk membeli atau melihat apa. Saya tidak sempat menelisik barang khas Imlek apa saja yang dijajakan di pasar ini. Saya hanya sempat berkelakar dengan seorang penjual di kios kelontongnya, bahwa seandainya pemerintah hendak mendirikan PLTN di Surabaya, maka tidak usah bingung-bingung lagi untuk mencari bahan bakunya. Pemerintah bisa mendapatkannya di Pasar Atom dengan melimpah ruah… “Lhoh? Dak bissa, Dek. Dak bolleh bangun Nukler ndek sinni. Ditollak samma arek-arek, nanti…”. Saya menebak penjual tersebut berasal dari pulau Madura.
Kembali ke bahasan Lasem, moment tahun baru Imlek memang menjadi momen khusus, paling tidak tujuh tahun belakangan ini. Imlek sebetulnya bukanlah acara yang betul-betul baru, karena sebelum tahun 1966, momen ini bahkan dirayakan bahkan lebih semarak daripada tahun-tahun ini. Namun sejak tragedi nasional tahun 1965, Imlek menjadi hal yang tabu, bahkan dilarang, sekalipun tidak ada satupun kaitan secara historis-ideologis antara Imlek dan tragedi tersebut.

Kemudian, di era yang sudah lumayan terbuka kali ini, sedikit atau banyak Imlek menjadi berkah tersendiri buat Lasem, karena paling tidak, dari segi ekonomi, cipratan uang bisa didapatkan dari belanja “saudara jauh” yang setahun sekali mampir di kota ini. Menganalisis hal tersebut, ingatan saya tertuju pada masa sekitar tahun 2005, dimana saya bersama “saudara sinoro wedi”, mas Ahmad Syaifudin yang sekarang menjadi staff pengajar di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang, melakukan penelitian mengenai akulturasi masyarakat Jawa dan Tionghoa di Kota Semarang.

Penelitian ini, dengan segala kelemahan metode dan analisisnya karena kekurangtahuan penulis, membuka pemahaman saya mengenai betapa masyarakat Jawa dan Tionghoa di kota Semarang yang mungkin bisa menjadi semacam cerminan untuk kota-kota lain di pulau jawa, terikat erat oleh suatu budaya yang sudah mengalami proses akulturasi dan asimilasi, melebur membangun pola kebudayaan masyarakat Semarang sekarang. Paling tidak, moment-moment yang secara khas dilakukan oleh masyarakat Tionghoa, juga dinikmati dan dirasakan pula oleh masyarakat Jawa layaknya budaya sendiri, begitu pula sebaliknya.Sungguh sebuah kejujuran kemanusiaan yang tidak bisa dipungkiri, kecuali oleh iri-dengki dan tamak-serakah yang membutakan hati berbalut kesombongan dan eksklusifitas.

Penelitian yang kami lakukan itu, sekalipun hanya membidik bidang sosial budaya dan sedikit analisis ekonomi sederhana, sepertinya dapat membuktikan bagaimana sebenarnya masyarakat Jawa dan Tionghoa di kota Semarang pernah lahir, besar dan tumbuh dalam nuansa kebersamaan. Pola-pola seperti ini yang mungkin bisa menghapus luka –jika itu dikatakan luka- akibat pergesekan yang pernah terjadi yang sebetulnya lahir dari dramatisasi dan kambinghitam anasir politis belaka. Pendekatan-pendekatan budaya yang misalnya dalam bentuk kesenian dan forum-forum kebersamaanlah, yang saya yakini bisa membangun dialog antar tokoh, antar warga untuk mengikis habis tembok kepicikan pandangan satu sama lain.

Saya pernah sangat akrab –bahkan sampai saat ini- dengan seorang wanita Tionghoa yang anggaplah sebuah kebetulan saja pernah juga menjadi dosen pembimbing saya dalam menulis skripsi. Tetapi lebih jauh, saya menggaris bawahi bahwa keakraban kami justru terasa dalam karena kami sering melakukan diskusi mengenai berbagai hal, terutama hal antara Jawa dan Tionghoa. Ia berulang kali memberikan kesematan pada saya mengikuti acara-acara budaya Tionghoa dimana ia menjadi panitia atau pemrakarsanya.

Oleh karena itu beberapa kali saya sempat berdialog, walaupun singkat dengan tokoh Tionghoa untuk memahami bagaimana pandangan mereka mengenai disharmoni ini. Ia pula, dengan lugas, mengungkapkan bahwa kesalahpahaman dan kekolotan pemikiran ini harus segera dilenyapkan. Dua etnis anak ibu pertiwi bernama Indonesia Raya ini, yang kebetulan digolong-golongkan oleh ilmu pengetahuan menjadi ras yang berbeda, harus membangun kesepahaman dalam hati, bahwa segala daya dan upaya harus dilakukan untuk memuarakan kesimpulan pada kemanusiaan, kemudian berlanjut pada kebangsaan. Semua itu, saya tambahi, hendaknya diawali dan dimotori oleh generasi muda dari kedua pihak.

Pada masa-masa tenang seperti ini, memang mengungkapkan topik ini justru terkesan mengungkap-ungkap kembali ketenangan yang telah ada, menyingkap-nyingkap kedamaian yang telah “terjalin”. Tapi perlu diingat, siapa yang menyangka bahwa Mei 1998 akan menjadi kerusuhan rasial ? Siapa yang menduga Februari 1980 di Solo berubah menjadi pengungkapan kesumat kebencian ? Siapa yang memprediksi bahwa pada pertengahan tahun 1990-an, harga minyak tanah naik seratus rupiah saja, telah terjadi huru-hara antar etnis berujung pembakaran di kecamatan Sarang dan Kragan kabupaten Rembang? Inilah api dalam sekam.

Api yang diciptakan dengan sangat efektif sejak berabad silam oleh kolonialisme, disimpan dalam sekam kesenjangan-kecemburuan kronis berbalut kepicikan dan kebodohan membaca sejarah. Inilah api dalam sekam, yang pada masa tahun pemilu ini bisa dipolitisir untuk meraih simpati dan mendulang suara yang biasanya lantas dilupakan begitu saja begitu hajatan usai, atau disulap menjadi pematik kekacauan jika memang diperlukan untuk merebut kekuasaan.

Biarlah api menjadi api, dan sekam menjadi sekam. Keduanya, paling tidak, bisa disandingkan dalam kandang lembu untuk perapian dan cadangan pangan, jika memang Indonesia saat ini tidak lebih dari kandang lembu belaka.

Sugeng warso enggal kagem sedherek Tionghoa, mugi dados berkah tumraping sedoyo. Waallohu a’lam, bi showab.
Semarang, 26 Januari 2009.
Yog, ardiansyah_jfc@yahoo.com

Sumber: http://komunitasembunpagi.blogspot.com/2009/01/buah-cerita-dari-lasem-di-hari-imlek.html

Filed under: Lasem, , , , , , ,

4 Responses

  1. irfan ms mengatakan:

    Dalam diri manusia sebetulnya telah di karuniai aleh Allah Ta’ala yaitu “NURANI & NALURI” dalam memerankan dua karunia ini yang harus kita cermati adalah mana yang harus kita dahulukan karena kita berhadapan dengan berbagai karakter serta watak manusia yang selalu berubah-ubah dalam waktu yang singkat..saya menyarankan bila kita ingin membangun sebuah istana ataupun rumah megah yang paling di utamakan adalah,bagaimana membangun pondasi yang lebih kuat serta kokoh agar tidak mudah goyah dari terpaan badai sebeasar apapun,ataupun gelombang,iklim yang datangnya dari alam ini yang memang sudah di munculkan hukum nya masing2,saya menganalisa artikel yang saudara sampaikan itu justru malah dapat memicu luka lama, akan muncul kembali,konflic sikologis pada diri orang2 yang memang sudah langsung merasakan serta melihta dengan mata mereka sendiri,sebetulnya kehidupan memang itulah bagian dari sejarah atau bagian dari cerita malah yang ada hidup itu berupa dongeng yang sengaja di ciptakan agar kita sebagai manusia yang berakal akan selalu belajar dari sejarah,pengalaman kalau kita peduli atau merasa memiliki sebuah cerita atau suatu program marilah kita buat yang baru, bagaimana kita buat daerah,wilayah,negeri agar dapat lebih maju,baik dan selalu unggul dengan yang lebih unggul,Lasem Memang kota kecil yang saya angap mempunyai kekayaan alam yang luar biasa,sekarang hanya dimiliki oleh org2 yang dianggap punya uang,akan lebih baik kita berbuat baik di negeri sendiri dari pada kita harus kaya di negri orang..sejahterkanlah saudara2 dekat kita jangan kita cuma hanya mengambil satu kesimpulan yang sebenarnya kita hanya cuma hanya dapat mengeluarkan komentar yang tak dapat merubah apa2 ….salam sejahtera a

  2. poer mengatakan:

    Kita manusia tidak bisa memilih sama Sang Maha Pencipta, ya Tuhan lahirkan aku sebagai orang Cina, orang Jawa, orang Batak, orang Arab atau lainnya. Itu hak Allah SWT, itu semua keagungan dari Allah SWT, bahwa keragaman itu harus dinikmati disyukuri itulah keragaman negri Nusantara ini. Yang jelas kita bangsa Asia, pada waktu bayi kita pasti ada warna topel biru di bokong ha.. ha… keragaman adalah warna hidup bangsa kita di nusantara. Tentunya harus menjadi modal yang tak ternilai untuk sejalan dan seiring….. he.. he..Hidup Indonesia tercinta.

    • catatan seputar negeri dampo awang mengatakan:

      luar biasa. semoga semua warga indonesia memiliki pemahaman yang sama. saya miris sekali melihat berbagai pertarungan antar identitas atau kelompok di indonesia tercinta ini..,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: