Warta Lereng Gunung Argopuro, Rembang, Jawa Tengah

Pengaruh Lasem dalam Industri Batik

INDUSTRI batik di Lasem memang tidak sebesar industri batik di Cirebon atau Pekalongan, wilayah-wilayah industri batik yang sama-sama berada di pantai utara Jawa. Tetapi, batik lasem pernah mencapai masa-masa jaya dan diakui keindahannya hingga jauh melampaui wilayah-wilayah sekitar Lasem.

Artisan batik Iwan Tirta misalnya, mencatat di dalam bukunya Batik, A Play of Light and Shades (1996), pada masa-masa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 batik lasem terkenal bukan hanya di Jawa, tetapi hingga ke seluruh Kepulauan Nusantara dan lebih jauh lagi. Menurut tuturan Rens Heringa dan Harmen C Veldhuisen di dalam buku Fabric of Enchantment, Batik from the North Coast of Java (1997), Lasem merupakan pemasok batik yang cukup besar untuk Sumatera. Pada beberapa batik, terutama yang dipakai untuk keperluan khusus seperti mas kawin, sebagian hiasan batik berupa daun berwarna emas, dikerjakan di Sumatera dengan mengikuti motif batik yang sudah ada. Batik-batik tersebut biasanya menggunakan motif tumpal kepala dan terbagi dua bagian yang berbeda warna dasar dan motifnya, sehingga disebut kain sisihan (bersebelahan).

Batik lasem menjadi sangat terkenal selain karena motifnya merupakan hasil adaptasi motif-motif yang berasal dari Cina terhadap budaya lokal, juga karena pewarnaannya yang lembut dengan menggunakan pewarna dari mengkudu. Meskipun Lasem berada di Jawa Timur, tetapi motif-motif batik lasem menurut Iwan Tirta lebih mendekati moti-motif batik dari Cirebon dan Indramayu yang berada di bagian barat Lasem.

Namun, menurut Heringa dan Veldhuisen, motif dan warna batik lasem juga mempengaruhi batik-batik yang diproduksi di luar Lasem. Warna bang biru tiron Lasem (warna merah-biru gaya Lasem) misalnya, merupakan istilah yang umum dipakai untuk batik-batik yang diproduksi di luar Lasem. Warna merah-biru itu ditiru antara lain oleh pembuat batik di Cirebon, hal yang mungkin dilakukan setelah mulai diimpornya pewarna buatan ke Hindia Belanda dari Eropa pada awal abad ke-20.

Sebelum ada pewarna buatan, pewarnaan batik mengandalkan bahan-bahan pewarna alami. Warna yang mula-mula ada di Pesisir adalah beragam warna biru yang dikombinasi dengan warna merah terang yang bergradasi menjadi merah kecokelatan. Tiap kawasan industri batik masing-masing menyempurnakan resep pewarnaan mereka sendiri yang kemudian menjadi ciri khas dan dirahasiakan. Warna-warna khas suatu daerah (dalam kombinasi antara biru dan merah), menurut Veldhuisen dan Heringa, tidak bisa dilepaskan dari tanah tempat tumbuhan asal bahan warna tersebut, serta air dari mana proses pencelupan untuk pewarnaan berasal. Kadar garam dan besi yang tinggi di pesisir utara Jawa menghasilkan warna merah terang pada pewarna berbahan dasar mengkudu. Yang terkenal adalah warna merah dari daerah Lasem.

SELAIN dipengaruhi oleh motif batik dari daerah-daerah pesisir lainnya, batik lasem yang diproduksi oleh rumah-rumah batik milik orang-orang Peranakan juga mempengaruhi ragam hias batik daerah penghasil batik lainnya. Motif laseman yang ditiru antara lain oleh pembuat batik dari Semarang, menggunakan motif kembang sungsang, kupu-kupu berukuran besar, kelelawar buah, dan burung cenderawasih (atau mungkin juga burung hong), yang menjadi motif dan tampak dominan.

Untuk orang-orang Peranakan, burung hong yang mistis hanya muncul pada masa-masa kemakmuran, kelelawar melambangkan umur panjang dan kekayaan, sementara kupu-kupu adalah simbol kebahagiaan. Karena makna-makna tersebut, menurut Valedhuisen dan Heringa, batik seperti itu hanya dipakai saat pernikahan atau pesta-pesta penting.

Pengusaha Peranakan dan Arab mengikuti apa yang dilakukan Peranakan Eropa dalam industri batik, yaitu mengawasi sendiri pembuatan batik tulis mulai dari kecepatan pekerja dalam menyelesaikan selembar batik, konsumsi lilin malam, menerapkan denda untuk lilin yang terbuang atau garis yang dibuat asal-asalan, hingga membuat sendiri desain yang selalu diubah untuk memuaskan permintaan konsumen yang adalah orang-orang kaya.

Pengawasan ini juga dilakukan pengusaha batik di Lasem. Untuk memberi tanda pada selembar kain batik yang diproduksi di rumah batik tertentu, pengusaha batik di Lasem mulai memberi inisial dengan cap tinta pada batik-batik mereka sejak tahun 1850.

Namun, para juragan batik di Lasem dan Rembang pulalah yang pada pertengahan abad ke-19, yaitu saat dimulainya pembuatan batik secara komersial, yang mengubah relasi antara juragan dan para pembatik. Dengan memanfaatkan sistem pemberian uang di muka kepada para pembatik, para juragan di Lasem dan Rembang bukan hanya berhasil membuat para pembatik bekerja eksklusif untuk mereka, melainkan juga memaksa para pembatik itu tinggal di dalam kompleks industri batik dengan tujuan memperbesar produksi batik. Cara ini, demikian menurut Heringa, tidak jarang membuat para pekerja itu berada dalam keadaan berutang secara kronis kepada juragan mereka.

Dalam perkembangan zaman, munculnya batik cap serta turunnya permintaan untuk batik tulis halus dan berganti dengan batik cap yang lebih murah dan kemudian batik cetak (printing) yang lebih murah lagi, menyebabkan industri batik tulis di mana-mana mengalami kemerosotoan. Tak terkecuali Lasem.

Sumber : (NMP) Kompas Cetak, Pekalongan

Filed under: batik, Lasem, , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: