Warta Lereng Gunung Argopuro, Rembang, Jawa Tengah

Mengembalikan Kejayaan Batik Lasem

Apa kelebihan batik tulis lasem? Warga Rembang umumnya mengatakan, nilai seni batik tulis ini terletak pada motif. Sedikitnya ada lima motif, yaitu tiga negeri, empat negeri, kawung, rawan, dan kendo­ro-kendiri.Pembuatan batik tulis lasem melalui proses yang cukup panjang. Untuk menye­lesaikan satu potong batik tulis, menurut Naomi, perajin batik asal Lasem, waktu yang dibutuhkan cukup beragam. Bisa menghabiskan waktu 2-3 hari, bahkan ada yang sampai 6-8 bulan. Semua tergantung tingkat kerumitannya.

Pembuatan batik dilakukan secara kumulatif, artinya masing-masing orang mengerjakan satu tahapan,mulai dari pem­buatan pola (nglengkreng), menutup bagian yang tidak berpola (nembok), dan mewamai (nerusi).Tahap nerusi ini bisa mencapai tiga kali proses, bergantung pada berapa warna yang digunakan. Semakin banyak warna yang digunakan, semakin lama pula prosesnya. Itu sebabnya, batik tulis lasem terkenal ma­hal harganya.

Di pasaran umum, selembar kain batik rata-rata dijual Rp 350.000 – Rp 500.000. Bahkan ada yang lebih mahal lagi, sampai Rp 2 juta.Harga yang mahal ini pula, batik tulis lasem sempat tergusur oleh batik cap atau batik printing buatan daerah lain yang har­ganya jauh lebih murah. Hal itu menjadikan pasar batik tulis lasem lesu.”Sejak munculnya batik printing, di era 1990-an, kondisi batik tulis lasem menjadi lesu,” ucap Naomi yang kini memiliki koleksi sekitar 300 potong.Keadaan tersebut lebih diperparah adanya krisis moneter yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997. Penjualan batik tulis menjadi sangat merosot dan akibatnya banyak perajin batik tulis yang gulung tikar.

Generasi Penerus

Menurutnya, dari sekitar 150 perusa­haan batik tulis yang dulu ada di daerah ini, sekarang yang masih bertahan tinggal 30 perajin, salah satunya adalah miliknya. Selain karena faktor harga, keterpurukan usaha batik tulis juga disebabkan oleh semakin langkanya generasi yang menekuni profesi ini. Umumnya angkatan muda dan Lasem lebih memilih merantau daripada mempertahankan tradisi membatik.Beberapa perajin batik di Lasem umumnya mengaku, sekarang anak-anak mereka sudah bekerja di luar daerah, sehingga tidak ada penerus yang melan­jutkan usahanya. Mereka tidak tabu apa yang akan teriadi dengan usahanya kelak.Merasakan lesunya industri batik tulis ini, banyak pengusaha yang mencoba bangkit lagi, dengan cara menurunkan harga jual, tetapi tetap mempertahankan kualitas produksinya. Seperti yang dilaku­kan Sugiyem, asal Pancur.

Perajin batik tulis ini sekarang bisa melayani pembeli dengan harga cukup murah, yakni sekitar Rp 65 ribu-Rp 150 ribu/potong. Dia adalah warga pribumi yang tergolong sukses menekuni usaha tersebut. “Saya ingin batik lasem kembali terkenal dan jaya seperti dulu,” katanya.Lain halnya pengakuan Santoso, peng­usaha batik Lasem cap Pusaka Bening ini mengatakan, ada beberapa kelebihan yang menjadikan batik Lasem mampu bertahan hingga sekarang. Salah satunya adalah menyangkut corak yang tidak menganut pakem.Motif batik Lasem merupakan hasil kreasi dari para seniman batik asal daerah setempat, sehingga tak ada duanya hasil produksi daerah lain.

Itu sebabnya, corak batik Lasem mengalami perubahan sesuai dengan zamannya. Namun sebagian besar diilhami oleh kekayaan hasil laut, “maklumlah, kami berada di daerah pantai”.la menambahkan, batik Lasem memiliki banyak motif. Namun motif satu dengan lainnya tidak ada yang sama, karena proses pembuatannya melalui lukisan tangan pembatik. Itu sebabnya, selembar kain batik harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Semakin lama proses pembuatannya, kian  mahal harganya.

Hal yang menarik, sekarang ini banyak orang yang memburu batik tulis buatan tahun 70-an ke bawah. Semakin kuno semakin diburu orang. Harganya tak tanggung-tanggung, selembar kain bias laku dijual Rp. 3juta – Rp. 10 juta, bahkan bisa lebih mahal lagi.

Beberapa pengusaha melakukan kerja sama dengan desainer (perancang busana ) dari kota-kota besar. “Langkah ini memang masih awal. Kami berharap, batik Lasem bisa meraih kejayaannya kembali”, ucap Santoso.

Sumber: http://museumbatik.kotapekalongan.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=16&Itemid=2

Filed under: batik, Lasem, , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: