Warta Lereng Gunung Argopuro, Rembang, Jawa Tengah

Melihat Jejak Sejarah Industri Kapal Lasem

–Oleh Hendriyo Widi

Pramoedya Ananta Toer dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005) menuliskan tentang pernik kecil kota tua Lasem, di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Sastrawan asal Blora itu mencatat Lasem memilik andil besar dalam sejarah maritim Nusantara.

“Di pantai Lasem masih tersisa galangan kapal. Tempat itu dinamai Dasun…. Teluk Rembang juga menjadi tempat galangan- galangan kapal dan ekspor kayu jati….” tulis Pram.

Menyusuri tepian Sungai Bagan di Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Rabu (13/8) siang, jejak-jejak galangan kapal seperti yang diungkapkan Pramoedya masih tampak mata. Di desa yang berjarak sekitar dua kilometer ke arah utara kota Lasem itu terdapat tiga fondasi galangan kapal.

Dua fondasi galangan terletak di tepi Sungai Bagan. Fondasi galangan kapal lain terletak di pantai Lasem, sekitar satu kilometer dari fondasi galangan di Sungai Bagan.

Ketiga fondasi itu berbentuk mirip separuh kapal. Fondasi itu terbuat dari cor-coran semen yang dicampur dengan batu, kerikil, dan pasir laut. Di bagian fondasi dekat sungai, terdapat bekas pintu air yang terbuat dari kayu jati.

Warga Desa Dasun, Turi Prasetyo (37), mengatakan, sekitar dua tahun lalu pintu air fondasi itu diambil dan dijual sejumlah warga. Pintu itu terdiri dari empat papan kayu jati seluas sekitar empat meter persegi yang dipasang berjejer.

“Di bagian bawah pintu air itu terdapat balok-balok kayu jati yang juga sudah diambil sejumlah penduduk,” kata warga yang bertempat tinggal di samping depan fondasi galangan kapal itu.

Ia mengemukakan, hampir di sepanjang Sungai Bagan di Desa Dasun dapat ditemui kapal-kapal tempo dulu yang karam. Kapal-kapal itu terbuat dari kayu dan besi.

Dua tahun lalu, ketika sungai surut sebagian bangkai kapal-kapal itu kelihatan. Namun, saat ini situasi itu jarang dijumpai karena sejumlah nelayan mengambil kayu dan besi bangkai-bangkai kapal itu dengan cara menyelam.

Dua sesepuh Desa Dasun, Daryoko (70) dan Wajir Wardoyo (80), mengatakan, galangan kapal di pantai Lasem itu milik Perusahaan Belanda Nieuw Zec. Galangan yang dibangun sekitar abad ke-16 itu memproduksi kapal besi.

Galangan kapal di Sungai Bagan juga dibangun Belanda pada waktu yang hampir bersamaan. Galangan bernama Berenzen itu untuk memproduksi kapal kayu.

“Satu galangan kapal lagi merupakan bangunan Jepang dan perluasan dari bangunan sebelumnya yang hancur pada saat Jepang pertama kali datang ke Lasem. Warga tempo dulu menyebut galangan itu sebagai Magezen,” kata Daryoko.

Wajir mengaku pernah menjadi buruh pengangkut barang di gudang galangan kapal Magezen. Ia ingat gudang itu berisi peralatan mandi, bahan baku kapal, tempat tidur, karung, dan tong.

Secara terpisah, pengamat sejarah dan budaya Rembang, Edi Winarno, mengatakan, Lasem pernah menjadi galangan pembuatan kapal pada zaman Majapahit dan Demak. Dahulu lokasinya bukan di Desa Dasun, tetapi di Dukuh Ketringan, Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang.

Pada saat VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) masuk Lasem dan memonopoli perdagangan kayu jati sekitar tahun 1777, pelabuhan dan galangan kapal itu dipusatkan di Desa Dasun. Pengusaha-pengusaha Belanda mulai masuk dan mengelola industri pembuatan kapal tersebut.

Pada 1942, Jepang kesulitan mendatangkan kapal dari negaranya sebab menghadapi blokade sekutu. Oleh karena itu, Jepang berupaya membuat kapal di Lasem.

“Program itu melibatkan 44.000 buruh Indonesia dan 215 orang teknisi Jepang. Selama pendudukan Jepang itu, sekitar 620 kapal dibuat dan ditambah dengan tenaga mesin diesel,” kata Edi.

Sumber: http://koran.kompas.com/read/xml/2008/08/16/11324181/melihat.jejak.sejarah.industri.kapal.lasem

Filed under: Lasem, , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: