Warta Lereng Gunung Argopuro, Rembang, Jawa Tengah

Cu An Kiong, Saksi Sejarah yang Tetap Tegar

Indonesia memang majemuk. Banyak orang dan tempat yang berusaha menunjukkannya. Lasem, sebuah kota kecamatan 13 kilometer dari Rembang, justru lahir dalam kemajemukan. Tak ada rekayasa. Seluruhnya alami. Serasi.

Dalam buku Nusantara karya Bernard Vlekke, Lasem diceritakan menjadi tempat pertama kali mendaratnya bangsa Cina di pulau Jawa.

Layaknya kota-kota di pesisiran, pelabuhan Lasem kala itu menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di pulau Emas.

Lalu lintas ekonomi – dan budaya – berbagai bangsa memaksa kota ini terbuka untuk bangsa seberang.

Bahkan, tanpa melihat latar belakang, Raden Ngabehi Widyadiningrat dan Raden Panji Margono Putra Tejo Kusuma – dua orang Jawa – mengangkat senjata bersama Tan Kee Wie untuk mengusir penjajah Belanda.

Tak berhasil memang, namun kisah heroik ini yang membuat Yayasan Tri Murti Lasem menghormati Raden Panji Margono dalam bentuk kongco di kelenteng Gie Yong Bo – lengkap dengan beskap Jawa-nya.

***

Gie Yong Bo menjadi salah satu dari tiga kelenteng simbol kemajemukan Lasem. Dua kelenteng lain adalah Fo An Bio dan Cu An Kiong yang merupakan kelenteng paling tua di Jawa.

Enam ratus tahun lalu, Cu An Kiong yang berada di tepi kali Lasem merupakan tempat sembahyang utama masyarakat keturunan Cina di Lasem dan sekitarnya Di luar ritual keagamaan, Cu An Kiong juga menjadi tempat beberapa aktifitas yang terbuka bagi semua umat.

Kembali sejarah mencatat, di kelenteng ini lah Raden Ngabehi dan Raden Panji Margono bersama Tan Kie Wie menyusun strategi penyerangan ke penjajah Belanda.

***

Di luar sejarah, kelenteng yang pernah menjadi lokasi pengambilan gambar film Ca Bau Kan ini sangat kaya detil. Banyak di antaranya masih tetap asli seperti ketika pertama kali dibangun tahun 1335.

Area belakang kelenteng Cu An Kiong – dinding dan meja altar tengah – yang luasnya tak lebih dari seperlima bangunan sekarang merupakan bagian yang paling orisinil. Sebagian besar ornamen yang memenuhi area ini pun konon masih asli.

Di sisi kiri-kanan bagian depan bangunan utama, ada kurang lebih limapuluh ubin berlukis kehidupan manusia menghiasi dinding hingga ke langit-langit. Tak banyak yang bisa menjelaskan arti lukisan-lukisan ini, tak juga Bapak Irawan – atau biasa dipanggil Iwing – penjaga kelenteng.

Satu yang Pak Iwing tahu, tinta yang digunakan untuk mebuat lukisan-lukisan ini dibawa langsung dari Cina.

Di bagian luar, sepasang patung U Te Kiong dan Cen Siok Po bediri gagah. Selain menyambut umat, kedua Dewa Pintu ini seolah menjaga kelenteng dan mengusir energi negatif dari arah barat.

Jika menengadah ke salah satu balok di ruang utama, terlihat dua buah patung kembar dengan posisi menggendong balok. Keduanya menggambarkan dua orang pendeta yang dihukum karena mencuri kayu ketika membangun kelenteng.

Pak Iwing berkisah, kedua patung ini untuk mengingatkan umat agar tidak membengkokkan niat yang baik dengan perbuatan jahat.

***

Berkunjung ke Cu An Kiong – dan kedua kelenteng tua lain, Gie Yong Bo di Babagan dan Fo An Bio di Karangturi – tak cukup sehari, apalagi jika ingin mencermati kisah-kisah unik di baliknya.

Pak Iwing berbaik hati menunjukkan kalender kegiatan di kelenteng Cu An Kiong tahun 2009 masehi. “Semua boleh datang. Semua boleh lihat bahkan ikut umat yang sembahyang”, begitu Pak Iwing menutup pertemuan kami siang itu.

Sumber: http://endrocn.wordpress.com/2009/01/01/trilogi-lasem-cu-an-kiong-saksi-sejarah-yang-tetap-tegar/

Filed under: Lasem, , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: