Warta Lereng Gunung Argopuro, Rembang, Jawa Tengah

Batik Lasem, Nasibnya Kini

BILA orang menyebut batik Jawa Tengah, orang segera menyebut Solo dan Pekalongan. Padahal, selain kedua daerah tersebut masih ada daerah lain yang juga menghasilkan batik tulis yang tidak kalah indahnya, yaitu Lasem. Kota kecamatan di Kabupaten Rembang sekitar 12 kilometer arah timur kota Rembang ini luasnya 45,04 kilometer persegi dengan jumlah penduduk sekitar 44.879 orang (Litbang Kompas, 2003).

Batik produksi Lasem bercorak khas, terutama warna merahnya yang menyerupai warna merah darah ayam, yang konon tidak dapat ditiru oleh pembatik dari daerah lain. Kekhasan lain terletak pada coraknya yang merupakan gabungan pengaruh budaya Tionghoa, budaya lokal masyarakat pesisir utara, dan budaya keraton (Surakarta dan Yogyakarta).

Konon para pedagang Tionghoa perantauan yang berdatangan ke Lasem memberi pengaruh besar terhadap corak batik di daerah ini. Banyak yang kemudian menjadi pengusaha batik di kota ini.

Pada masa kejayaan batik lasem, hampir setiap rumah tempat tinggal orang Tionghoa di daerah ini mengusahakan pembatikan dengan merekrut tenaga pembatik dari desa sekitar. Tenaga pembatik ini umumnya melakukan pekerjaan ini sebagai sambilan saat menunggu musim panen dan musim tanam pada sawah.

Ketika membuat desain untuk motif batik produksi mereka, para pengusaha pembatikan Lasem dipengaruhi budaya leluhur mereka seperti kepercayaan dan legendanya. Ragam hias burung hong dan binatang legendaris kilin (semacam singa) dan sebagainya mereka masukkan dalam motif batik produksi mereka. Bahkan, cerita percintaan klasik Tiongkok seperti Sam Pek Eng Tay pernah menjadi motif batik di daerah ini. Tidak mengherankan bila kemudian batik produksi Lasem sering disebut sebagai batik “Encim”. “Encim” adalah sebutan kaum Tionghoa peranakan untuk wanita yang usianya telah lanjut.

Selain itu pengaruh budaya keraton Surakarta dan Yogyakarta juga terlihat pada motif batik lasem, antara lain pada ornamen kawung, parang dan sebagainya. Sementara pengaruh budaya pesisir terlihat pada warnanya yang cerah seperti warna merah, biru, kuning dan hijau.

Pembatikan di Lasem memang pernah berkembang gemilang. Sigit Wicaksono (74), pengusaha batik lasem yang merintis usaha pembatikan sejak sekitar tahun 1942, mengutarakan, batik lasem dalam masa kejayaannya pernah diekspor ke luar negeri, antara lain ke Suriname. Batik lasem bisa bersaing dengan batik dari daerah lain karena selain motifnya menarik dengan kain kualitas halus, juga warna merah darah ayamnya yang khas tidak bisa ditiru pembatik daerah lain.

Namun, kalau sekarang Anda datang ke Lasem dan mencari batik tulis produksi Lasem, apalagi batik dengan motif tradisional khas Lasem, Anda akan mengalami kesulitan bagaikan mencari barang antik saja.

Batik tulis lasem sekarang sulit ditemui karena pengusaha yang menghasilkan batik lasem banyak yang gulung tikar. Dari sekitar 140 pengusaha batik pada tahun 1950-an, kemudian merosot menjadi sekitar 70 pengusaha pada tahun 1970, dan kini tinggal sekitar 12 orang saja yang masih mengusahakan pembatikan. Yang masih bertahan ini pun banyak yang usahanya “Senin-Kamis”. Maka, tepat kalau dikatakan batik lasem terancam punah.

Sekitar setengah abad lalu masih kita jumpai banyak keluarga di Kota Lasem yang menjadi pengusaha pembatikan, atau sedikitnya menjadi pedagang batik yang mengambil batik dagangannya dari pembatik kecil di desa sekitar. Sekarang mereka tidak lagi aktif dalam usaha pembatikan, bahkan toko batik mereka beralih menjadi toko kelontong. Alat pembatikan dibiarkan teronggok berdebu di sudut ruang belakang rumah atau di gudang penyimpan barang bekas.

“Usaha pembatikan Lasem dulu memang pernah jaya, tetapi sekarang sudah tidak lagi. Bahkan, keadaannya semakin lesu,” ungkap Ir Rudy Hartono (33), mantan pengusaha batik lasem yang sekarang membuka toko kelontong yang menjual barang elektronik keperluan rumah tangga sampai pada barang keperluan nelayan. Sekalipun dapur pencucian kain batik masih tampak di belakang rumahnya, alat pembatikannya sendiri tidak tampak lagi karena sudah lama disimpan di gudang.

Banyak faktor menjadi penyebab merosotnya pembatikan di Lasem.

“Pembatikan Lasem sedang limbung. Generasi penerus usaha pembatikan semakin berkurang karena setelah mengenyam pendidikan tinggi dan bertitel mereka tidak mau terjun di usaha pembatikan. Mereka lebih suka bekerja atau berusaha di bidang lain sesuai pengetahuan yang mereka peroleh di perguruan tinggi,” tutur Poernomo Maskoen (52), pengusaha batik lasem.

Selain itu, tambah Poernomo, tenaga pembatik juga berkurang. Anak-anak dari tenaga pembatik setelah lulus sekolah lanjutan tingkat pertama/atas tidak mengikuti jejak orangtuanya menjadi pembatik melainkan bekerja di kantor di kota besar seperti Surabaya dan lainnya. Jadi, tenaga pembatik tidak ada yang melanjutkan.

Karena para buruh pembatikan umumnya turun-temurun, pekerjaan utamanya adalah petani atau buruh tani di kampung halaman, saat musim panen dan musim tanam mereka pulang ke kampungnya mengerjakan sawah. Akibatnya kerja pembatikan tidak berlangsung lancar. Anak-anak para perajin yang dengan bekal ijazah mereka mencari kerja di kantor, pabrik atau toko, dengan harapan mendapatkan upah lebih tinggi dari upah sebagai perajin batik. Upah sebagai buruh pembatikan sekitar Rp 7.500 per hari ditambah makan di tempat kerja.

Selain akibat menciutnya jumlah orang yang menekuni usaha pembatikan, baik sebagai pengusaha maupun sebagai perajin, merosotnya usaha pembatikan Lasem juga disebabkan membanjirnya batik sablon atau batik cetak (printing).

“Teknologi sablon turut mematikan batik tulis lasem. Batik sablon harganya sekitar Rp 25.000 per lembar, jauh lebih murah daripada batik tulis yang harganya mencapai ratusan rupiah per lembar,” kata Sigit Wicaksana, pengusaha batik lasem yang kini berusaha bertahan demi memberikan pekerjaan kepada karyawannya yang tinggal beberapa orang. “Kasihan mereka kalau saya sampai berhenti sama sekali,” ungkapnya.

Menurut Sigit, bajak-membajak motif batik turut pula membuat usaha batik tulis lasem semakin lesu. Kurangnya modal memperparah kehidupan usaha pembatikan di Lasem yang merupakan usaha keluarga turun-temurun.

Menurut Poernomo Maskoen, orang-orang sekarang jarang memakai kain kebaya melainkan lebih senang memakai rok karena praktis memakainya di samping bahan rok lebih murah daripada kain batik tulis. Keadaan ini turut pula membuat lesunya usaha pembatikan di Lasem.

Apakah batik lasem akan terus terpinggirkan untuk kemudian punah sehingga tinggal barang kenangan saja yang dapat dilihat di museum? Mungkin pemegang kewenangan penentu kebijakan, pemilik modal, dan pecinta batik lasem dapat menjawabnya.

Sumber : (SN Wargatjie) Kompas Cetak, Jakarta

Filed under: batik, Lasem, , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: