Ekspedisi Puncak Argopuro #2

Dilanjutin ceritannya. Bagi nyang belum tahu bisa ngeklik Ekspedisi Puncak Argopuro #1 terlebih dulu.

Alhasil, di tengah rintik gerimis. Jalan setapak yang licin. Bahkan di 300 meter terakhir, jalanan yang kami lalui dipenuhi semak di kanan kiri. Tidak jarang semak tersebut bertautan di bagian atas sehingga membentuk sebuah lorong yang menimbulkan kesan fantastik. Kami sampailah di Puncak Argopuro, Puncak tertinggi di Gunung Lasem Kabupaten Rembang. Tidak terlalu tinggi memang, hanya 806 meter di atas permukaan laut.

Sepi, hanya kelompok kami saja yang kali ini menggelar acara di puncak itu. Tak apalah. Layaknya para pecinta alam profesional, kami langsung mendirikan dua buah tenda hasil pinjaman yang kami bawa. Sebuah untuk cowok dan sebuah tenda lagi untuk cewek. Semuanya bekerja dengan giat meski kelelahan setelah perjalanan kami. Apalagi separo lebih dari mereka adalah anggota baru yang baru pertama kali muncak. Aku sempat bangga, namun kutepiskan kebanggaan itu karna aku segera mafhum, mereka bekerja lebih dikarenakan hujan gerimis yang gak berhenti-henti. Mereka membutuhkan tempat untuk segera bernaung. Tak apalah, persamaan nasib selalu berkolerasi sejajar dengan saling ketergantungan yang pada akhirnya memunculkan kekompakan, meski untuk sementara. Yang penting, tenda telah berdiri. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Argopuro. 1 Komentar »

Ekspedisi Puncak Argopuro Lasem #1

Pendakian kali ini adalah pendakian saya yang kedua kalinya ke puncak Argopuro di Gunung Lasem (sebagian rekan ada yang menyebutnya Gunung Lasem). Selang satu bulan dari pendakian saya yang pertama, pas malam tahun baru kemarin. Kali ini saya bersama anak-anak Pecinta Alam ReKSAPALA. Oleh mereka saya didaulat menjadi leader, namun saya kemudian ngontak teman saya yang dari Rembang (Takim dan Budi) yang terkenal sebagai danyang (mungkin malah juru kuncinya) gunung tersebut untuk turut serta sekaligus menjadi coleader. Ya, biar tanggung jawab itu gak terlalu berat di pundak saya.

Gunung Lasem, dengan puncaknya Argopuro, merupakan sebuah gunung kecil (bukit kali) yang terletak di sebelah timur kota Lasem kabupaten Rembang. Membujur diantara Pegunungan Kapur Utara di sebelah selatan hingga ke pesisir laut Jawa di sebelah utara. Gunung  ini mempunyai ketinggian sekitar 806 meter dpl (pendek, amat?). Meskipun demikian puncak ini cukup ramai dikunjungi (terutama pas malam tahun baru dan liburan sekolah) oleh para pecinta alam dari Rembang, Pati, Blora, Tuban dan daerah lainnya. Baca entri selengkapnya »

Buah Cerita dari Lasem di Hari Imlek

Siang ini, setelah perjalanan dari Surabaya, saya berkesempatan melewati kota tua di ujung timur propinsi Jawa Tengah, kota Lasem. Kota ini memang tidak asing bagi saya karena selama tiga tahun, dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2001, setiap pagi dan sore saya selalu melintasi kota ini dalam rangka berangkat dan pulang dari SMA di kota Rembang.

Sungguh sebuah kenangan yang selalu lekat dalam benak saya sampai hari ini. Dan hari ini, kembali saya melintasinya sekali lagi. Sepanjang jalan di Lasem sampai dengan kota Rembang, ada sesuatu yang menarik dalam penglihatan saya. Di sisi jalan, banyak sekali mobil-mobil ber-plat jauh, misal H (Semarang), L (Surabaya) dan B (Jakarta) terparkir dengan rapi. Bukan sembarang mobil, mobil-mobil ini tidak mencerminkan keadaan lazim karena sebagian besar dari mobil ini adalah mobil mewah. Sepintas lalu saya melihat Mercedez Benz seri C dan E berdampingan dengan Kijang Innova (kalau tidak salah versi automatic). Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Lasem. Leave a Comment »

Lasem: Merajut Pesona Klasik Yang Memudar

Tak seperti halnya kota2 kecil lainnya di Jawa, Lasem mempunyai sejarah panjang dan catatan penting dan menarik untuk diikuti dan dikuliti. Sbg sebuah kota kecamatan, secara fisikal tampak lebih berkilau.

Denyut perekonomian lebih berkembang dibanding kecamatan2 lainnya di penjuru kabupaten Rembang. Bahkan sampai pada dekade 90′an lasem nampak lebih mempesona dibanding Kota Rembang itu sendiri. Jadi tak heran warga lasem jaman dulu atau bahkan sampai sekarang lebih bangga mengaku warga Lasem daripada warga Rembang. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Lasem. Leave a Comment »

Melihat Jejak Sejarah Industri Kapal Lasem

–Oleh Hendriyo Widi

Pramoedya Ananta Toer dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005) menuliskan tentang pernik kecil kota tua Lasem, di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Sastrawan asal Blora itu mencatat Lasem memilik andil besar dalam sejarah maritim Nusantara.

“Di pantai Lasem masih tersisa galangan kapal. Tempat itu dinamai Dasun…. Teluk Rembang juga menjadi tempat galangan- galangan kapal dan ekspor kayu jati….” tulis Pram.

Menyusuri tepian Sungai Bagan di Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Rabu (13/8) siang, jejak-jejak galangan kapal seperti yang diungkapkan Pramoedya masih tampak mata. Di desa yang berjarak sekitar dua kilometer ke arah utara kota Lasem itu terdapat tiga fondasi galangan kapal. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Lasem. Leave a Comment »

Lasem, Antara Jawa dan Cina

Layaknya daerah pecinan, disini akan ditemukan 3 kelenteng, tidak hanya 1 seperti di pecinan lain.  Istimewanya, kelenteng-kelenteng ini memiliki keunikan dan sejarah masing-masing yang sulit dijumpai di daerah lain di Indonesia.

Kelenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun, misalnya, yang diperkirakan dibangun pada abad ke-16, merupakan kelenteng tertua di Lasem.  Dewi Laut Thian Siang Seng Bo sebagai dewi pelindung para perantau dari bahaya di lautan ditempatkan di altar utama.  Karena awalnya, masyarakat Cina Lasem memang kaum pedagang peratauan yang kemudian menetap.

Tapi, yang paling menarik dari kelenteng ini adalah ornamen ukiran kuno dalam bentuk dan warna yang sangat indah.  Ornamen yang menghiasi atap bagian dalam kelenteng mengandung berbagai kisah dari filosofi Cina, serta melambangkan berbagai harapan.  Misalnya, bunga empat musim melambangkan harapan akan kedamaian, gajah melambangkan kebijaksanaan, kijang dan bangau melambangkan panjang umur.  Pihak kelenteng menyediakan papan informasi khusus yang menerangkan tentang symbol-simbol ini. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Lasem. Leave a Comment »

Batik Lasem, Ada Karena Laksamana Cheng Ho

Batik lasem yang konon ada di Indonesia berkat kedatangan Laksamana Cheng Ho sekitar tahun 1413 kini meredup. Untuk mencegah kepunahan batik lasem  perlu dikembangkan kultur membatik dan bisnis  di sektor ini.

“Untuk menghadirkan kembali batik yang bercorak percampuran Jawa dan China ini perlu kerja sama multidimensi,” kata Direktur Institut Pluralisme Indonesia sekaligus peneliti batik lasem , William Kwan, dalam diskusi dan pembukaan pameran “New Light of Batik Lasem” di Rumah Seni Yaitu, Kampung Jambe, Semarang, Jumat (15/2) malam. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Lasem. Leave a Comment »

Lasem kota Kenangan

LASEM KOTA ZIARAH SUNAN BONANG.

Matahari benar-benar terik membakar perjalanan sehat dengan reiki bersama kerabat kerja dalam kendaraan yang dipacu kencang selepas Kota Rembang. Siang tadi pemandangan yang bisa dijumpai selepas Rembang menuju Lasem adalah tambak garam milik penduduk yang terhampar di kanan kiri jalan raya. Dalam cuaca terik matahari menjelang asar, banyak petani garam sedang bekerja mengairi sawahnya dengan air laut yang merupakan modal pembuatan garam laut.

Ya kota Lasem tujuan perjalanan kali ini. Kunjungan ini adalah kunjungan yang kedua kalinya. Dua puluh delapan tahun (28) silam, sehat dengan reiki bersama kerabat kerja produksi film melakukan shooting film tvri dengan mengambil lokasi Rembang dan Lasem di mana keberadaan bangunan kuno khas Pecinan sampai saat ini masih dijumpai dan terawat dengan baik. Jangan membandingkan Lasem dengan Semarang dalam hal pertumbuhan tata kota ya? Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Lasem. Leave a Comment »

Batik Lasem Nyaris Habis

Menyusuri dunia batik di Pantai Utara Jawa ternyata memang menyenangkan. Meski secara garis besar batik tradisional yang ada di Lasem Jawa Tengah, sebetulnya tidak begitu jauh berbeda dengan ada di Pekalongan. Hal ini mengingat kedua lokasi sama-sama berada di Pantai Utara Jawa.

Sigit Wijaya, tokoh batik Lasem membenarkan, batik yang ada di Lasem ada kesan terkontaminasi oleh batik Cina. “Ragam hiasnya sudah bercampur aduk dengan perwarnaan yang sangat kompleks, menunjukkan batik sudah bukan asli karya seni bercorak lokal Lasem,” ucap Sigit Wijaya saat menerima rombongan ‘Jelajah Budaya, Mengenal dan Memahami Batik/Tenun Tradisioal Warisan Budaya Bangsa’ yang diselenggarakan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Yogyakarta. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Lasem. Leave a Comment »

Ragam Hias Batik Lasem

Batik Lasem mempunyai ciri khas multikultural ­Jawa-Tionghoa yang ­kental. Pesonanya tampak pada warna-warni yang cerah serta motifnya yang khas.

Batik merupakan salah satu ciri khas budaya Indonesia. Dari motif dan warnanya, kita bisa tahu dari daerah mana batik itu berasal. Di Lasem, Jawa Tengah, motif dan warna batiknya kental dengan ciri multikultural antara budaya Jawa dan Tionghoa. Hal ini terjadi karena pada zaman Kerajaan Majapahit, kota Lasem merupakan salah satu dari tiga kota pelabuhan terbesar.

Buku Serat Badra Santi (Babad Tanah Lasem) yang ditulis pada tahun 1479 me­ngatakan bahwa kota ini pernah disinggahi salah seorang nahkoda kapal dari rombongan Laksamana Cengho. Puteri Na Li Ni, istri sang nahkoda kapal, merupakan salah seorang perintis dunia perbatikan Lasem. Tradisi itu kini diwarisi oleh pengrajin batik di Rembang khususnya Lasem, Pancur, Pamotan dan Rembang. Motif khas Tionghoa itu bisa terlihat dalam gambar burung hong, kilin, liong, ikan mas, ayam hutan dan sebagainya. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Lasem. Leave a Comment »